Teuku Umar

Lahir : Meulaboh, Aceh 1854

Wafat : Meulaboh, 11 Februari 1899

Makam : Desa Mugo, Meulaboh

SEJAK umur 19 tahun, tepatnya tahun 1873, Teuku Umar telah ikut berperang melawan Belanda di kampung halamannya Meulaboh. Terlebih sejak menikah dengan Cut Nyak Dien pada tahun 1880, perlawanan Teuku Umar semakin menghebat. Seperti diketahui, Cut Nyak Dien juga merupakan seorang pejuang wanita yang gigih melawan Belanda.

Teuku Umar adalah panglima perang yang cerdik dan pandai bersiasat. Ia pernah berpura-pura membantu Belanda membebaskan kapal Inggris Nissero yang terdampar dan ditawan oleh Raja Teunom, Aceh Barat. Inggris mendesak Belanda agar membantu membebaskan awak kapal yang ditawan. Belanda lantas mengutus TeukuUmar dengan 32 orang tentara ke Teunom. Di tengah jalan, tentara Belanda yang menyertainya dibunuh dan dirampas senjatanya.

Teuku Umar pernah menyerang dan menawan kapal Hok Canton yang berlabuh di Pantai Rigaih. Pasalnya, Teuku Umar curiga awak kapal tersebut akan menangkap dirinya. Untuk menebusnya, Belanda terpaksa harus membayar uang sebesar 25.000 Dollar.

Tahun 1893, Teuku Umar tunduk dan bergabung dengan Belanda. Siasat berpura-pura Teuku Umar ini ternyata berhasil. Belanda kemudian mengizinkan Teuku Umar memiliki tentara berkekuatan 250 orang berikut persenjataan lengkap untuk memerangi pejuang-pejuang Aceh yang belum tunduk. Para pejuang Aceh yang akan diperangi pun paham karena telah diberitahu sebelumnya. Semua itu dilakukan Teuku Umar demi mendapatkan senjata dan perbekalan dari pihak VOC Belanda.

Pada tanggal 29 Maret 1896, Teuku Umar kembali bergabung dengan para pejuang Aceh. Ia berhasil membawa lari senjata, uang sebanyak 800.000 Dollar, dan perlengkapan lain milik Belanda.

Semasa bergabung dengan Belanda, Teuku Umar pernah diberi gelar Teuku Johan Pahlawan dan memimpin 1 legiun tentara berkekuatan 250 orang serdadu. Teuku Umar mampu menghadapi Politik Devide et Empera (“Pecah Belah dan Jajahlah”) Belanda dengan menggunakan kekuatan Belanda sendiri.

Pada Januari 1899, Belanda merasa tertipu dan amat marah sehingga mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menangkap Teuku Umar di Meulaboh. Teuku Umar akhirnya gugur pada tanggal 11 Februari 1899, dan dimakamkan di Desa Mugo, Aceh. SK Presiden RI. No. 087/TK/1973 meneguhkan Teuku Umar sebagai pahlawan nasional.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Syekh Yusuf Tajul Khalwati

Lahir : Gowa, Sulawesi Selatan, 3 Juli 1626

Wafat : Cape Town, Afrika Selatan 23 Mei 1699

Makam : Gowa, Sulawesi Selatan

MESKIPUN Syekh Yusuf lahir di Gowa, Sulawesi Selatan, namun dirinya banyak menghabiskan waktu untuk berjuang di Banten bersama Sultan Ageng Tirtayasa. Perkenalan Syekh Yusuf dengan Sultan Banten terjadi lebih kurang pada tahun 1644 sewaktu akan menunaikan Ibadah Haji. Sebelum ke Makkah, Syekh Yusuf mampir ke Banten dan tinggal selama 5 tahun di kediaman Sultan Ageng Tirtayasa. Ketika itu, Banten sedang bermusuhan dengan Belanda.

Sekembalinya dari Makkah pada tahun 1664, Syekh Yusuf mampir kembali ke Banten dan membantu perjuangan Sultan Banten melawan VOC. Bahkan ia kemudian dijadikan menantu dan penasihat kesultanan. Ketika Belanda dan Sultan Haji berhasil menguasai Kesultanan Banten, Sultan Ageng Tirtayasa ditangkap dan dipenjara di Batavia. Sedangkan Syekh Yusuf bersama pengikutnya dibuang ke Sri Lanka pada tahun 1684.

Di Sri Lanka, Syekh Yusuf tetap berusaha berjuang dengan cara mengirimkan surat-surat kepada penguasa-penguasa di Nusantara untuk menentang Belanda. Di samping itu juga menyebarkan agama Islam. Perbuatan Syekh Yusuf tersebut membuat Belanda berang dan kembali membuang Syekh Yusuf ke Afrika Selatan.

Selama lima tahun di Afrika Selatan, Syekh Yusuf menyebarkan agama Islam. Oleh karena itu, penduduk di Cape Town hingga kini menganggap Syekh Yusuf sebagai orang pertama yang menyiarkan agama Islam di Afrika Selatan. SK Presiden RI No. 071/TK/1995 meneguhkan Syekh Yusuf Tajul Khalwati sebagai pahlawan nasional.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Sultan Thaha Syaifuddin

Lahir : Jambi, 1816

Wafat : Betong, 24 April 1904

Makam : Muara Tebo

PADA tahun 1841, Thaha Syaifuddin diangkat sebagai Perdana Menteri oleh Sultan Abdurachman. Sejak itu pulalah dia selalu menunjukkan sikap menentang terhadap kekuasaan Belanda di Jambi.

Setelah diangkat menjadi Sultan, ia malah menolak menandatangani perjanjian yang menyatakan bahwa Jambi adalah milik Belanda dan Sultan Jambi hanya meminjam dari Belanda.

Pada 25 September 1858, Belanda melakukan serangan ke Jambi. Meskipun berhasil menenggelamkan kapal-kapal Belanda, tetapi Sultan Thaha tidak mampu mempertahankan istananya dan menyingkir ke pedalaman. Sejak itu, Sultan melakukan perlawanan secara gerilya dan membeli senjata dari pedagang-pedagang Inggris.

April 1904, pertahanan terakhir Sultan Thaha diserang secara besar-besaran oleh Belanda. Sultan Thaha berhasil meloloskan diri. Sultan Thaha akhirnya wafat pada tanggal 24 April 1904 dan dimakamkan di Muara Tebo. Saat ini namanya diabadikan menjadi nama lapangan terbang utama di Kota Jambi. Berdasarkan SK Presiden RI No. 079/TK/1977, Sultan Thaha Syaifuddin dinobatkan sebagai pahlawan nasional.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Sultan Mahmud Badaruddin II

Lahir : Palembang, 1767

Wafat : Ternate, 26 November 1852

Makam : Ternate, Maluku Utara

SEMENJAK ditunjuk menjadi Sultan Kerajaan Palembang menggantikan ayahnya Sultan Muhammad Baha’uddin, Mahmud Badaruddin melakukan perlawanan terhadap Inggris dan Belanda. Ketika Batavia berhasil diduduki Inggris pada tahun 1811, Sultan Mahmud justru berhasil membebaskan Palembang dari cengkeraman Belanda pada tanggal 14 Mei 1811.

Tahun 1812, peperangan dengan Inggris dimulai karena Sultan tidak mau mengakui kekuasaan Inggris di Palembang dan mengangkat Najamuddin menggantikan Sultan Mahmud Badaruddin II yang menyingkirkan ke Muara Rawas.

Berdasarkan Konvensi London tahun 1814, kekuasaan Belanda di Indonesia harus dipulihkan, tahun 1818 Inggris mengembalikan kekuasaannya di Palembang kepada Belanda. Selanjutnya Inggris juga kembali mengangkat Sultan Mahmud Badaruddin II sebagai Raja Palembang.

Namun, sejak tahun itu pula perang antara Sultan Mahmud badaruddin II dengan Belanda kembali berkobar. Tanggal 1 Juli 1821, Kesultanan Palembang berhasil diduduki Belanda dan Sultan berhasil ditawan. Sultan Mahmud Badaruddin II kemudian dibuang ke Ternate, Maluku Utara hingga wafatnya. Sultan Mahmud Badaruddin II tercatat sebagai salah satu pejuang Nasional yang melakukan perlawanan terhadap dua penjajah sekaligus yaitu Inggris dan Belanda. SK Presiden RI No. 063/TK/1984 menganugerahi gelar pahlawan nasional kepada Sultan Mahmud Badaruddin II.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Sultan Iskandar Muda

Lahir : Banda Aceh, 1593

Wafat : Banda Aceh, 27 September 1636

Makam : Banda Aceh

SULTAN ISKANDAR MUDA memerintah Kerajaan Aceh tahun 1607-1636. Sebelum menjadi Sultan di Aceh, ia bernama Johan Perkasa Alam. Di bawah kepemimpinan Sultan Iskandar Muda, Aceh mencapai puncak kejayaannya sebagai kerajaan besar di Nusantara. Wilayah kekuasaannya ketika itu hingga mencapai Malaysia, Sumatera Barat, Sumatera Timur, dan Semenanjung Melayu. Aceh juga menjadi pusat peradaban kebudayaan Islam, di samping juga sebagai pusat perniagaan dan mendapat sebutan Serambi Makkah hingga kinii.

Portugis yang telah menguasai Malaka sejak tahun 1511, tidak pernah mampu menguasai Aceh. Tahun 1615, Iskandar Muda melakukan penyerangan ke Malaka. Namun upaya ini dapat digagalkan oleh Portugis. Tahun 1629, Iskandar Muda kembali menyerang Portugis di Malaka. Kali itu hampir saja Malaka dapat dikuasai jika Portugis tidak mendapat bantuan dari Kerajaan Johor, Pahang, dan Patani.

Sultan Iskandar Muda wafat pada usia 43 tahun. Namun hingga akhir hayatnya, ia berhasil membawa Aceh ke puncak kejayaan dan kemakmuran. Sultan Iskandar Muda dianugerahi gelar pahlawan nasional berdasarkan SK Presiden RI No. 077/TK/1993.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Sultan Hasanuddin

Lahir : Makassar, 12 Januari 1631

Wafat : Makassar, 12 Juni 1670

Makam : Makassar

TERLAHIR dengan nama asli I Mallambosi, dia diangkat menjadi Sultan Ke-6 Kerajaan Gowa dalam usia 24 tahun (tahun 1655). Dia juga diberi nama Arab Muhammad Bakir dan bergelar Sultan Hasanuddin. Sementara itu, Belanda memberinya gelar de Haav van de Osten alias Ayam Jantan dari Timur karena kegigihan dan keberaniannya.

Peperangan antara VOC dan Sultan Hasanuddin dimulai pada tahun 1660. Saat itu, Belanda dibantu oleh Kerajaan Bone yang merupakan kerajaan taklukan dari Kerajaan Gowa. Pada peperangan tersebut, Panglima Bone, Tobala, akhirnya tewas, tetapi Aru Palaka berhasil meloloskan diri. Perang tersebut berakhir dengan perdamaian.

Akan tetapi, perjanjian damai tersebut tidak berlangsung lama karena Sultan Hasanuddin yang merasa dirugikan kemudian menyerang dan merompak dua kapal Belanda, yaitu de Walvis dan Leeuwin. Belanda pun marah. Lalu mengirimkan armada perang yang besar di bawah pimpinan Cornelis Speelman. Aru Palaka, penguasa Bone, juga ikut memimpin pasukannya menyerang Gowa. Hasanuddin yang semakin terdesak akhirnya sepakat untuk membuat perjanjian yang disebut Perjanjian Bongaya pada tanggal 18 November 1667.

Pada tanggal 12 April 1668, Hasanuddin kembali melakukan serangan terhadap Belanda. Namun, karena saat itu Belanda sudah mempunyai kedudukan yang kuat, pada tanggal 26 Juni 1668, Benteng Sombo Opu sebagai pertahanan terakhir Sultan Hasanuddin berhasil dikuasai Belanda.

Hingga wafatnya pada tanggal 12 Juni 1670, Sultan Hasanuddin tetap tidak mau bekerjasama dengan Belanda. Untuk menghormati jasa-jasa Sultan Hasanuddin, berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No. 087/TK/1973, Pemerintah menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepadanya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Sultan Agung Hanyokrokusumo

Lahir : Yogyakarta, 1591

Wafat : Yogyakarta, 1645

Makam : Pemakaman Raja-raja Imogiri

SULTAN AGUNG HANYOKROKUSUMO diangkat sebagai Raja Mataram menggantikan ayahnya, Raden Mas Jolang pada tahun 1613. Di bawah pemerintahan Sultan Agung, Mataram mencapai puncak kejayaannya sebagai kerajaan terbesar di Pulau Jawa saat itu. Sultan Agung adalah raja yang tidak pernah mau berkompromi dengan VOC. Ia bahkan pernah dua kali menyerang kedudukan VOC di Batavia.

Penyerangan pertama pada tahun 1628 dipimpin oleh Tumenggung Baurekso dan beberapa panglima perang lainnya. Namun, serangan ini dapat dipatahkan oleh Belanda. Wabah penyakit serta kekurangan pasokan air dan makanan menjadi sebab gagalnya serangan ini.

Pada tahun 1629, Sultan Agung kembali memerintahkan pasukan Mataram untuk menyerang Batavia. Penyerangan ini dipimpin oleh Dipati Puger dan Dipati Purbaya. Meskipun telah dipersiapkan dengan baik, termasuk membangun lumbung-lumbung padi di sepanjang perjalanan yang akan dilalui, penyerangan ini gagal. Penyebabnya, rencana penyerangan telah bocor dan diketahui oleh Belanda sehingga Belanda mendahului dengan membakar lumbung-lumbung padi yang telah di bangun.

Selain itu, wabah penyakit kolera turut memperburuk kondisi prajurit Mataram. Meskipun demikian, pada serangan kali ini, pasukan Mataram berhasil menguasai dan menghancurkan Benteng Hollandia. Gubernur Jenderal Jan Pieterzoon Coen juga tewas karena wabah penyakit kolera yang saat itu sedang berjangkit di Batavia.

Dari kedua penyerangan tersebut, Sultan Agung kemudian menarik kesimpulan menarik bahwa dukungan logistic amat penting untuk melakukan penyerangan ke lokasi yang jauh. Belajar dari hal tersebut, Sultan Agung kemudian mengirimkan orang-orangnya untuk membuka persawahan di daerah Purwakarta dan Sumedang. Namun, rencana Sultan Agung untuk menyerang Batavia yang ketiga kalinya tidak terlaksana. Dia wafat pada tahun 1645, sebelum penyerangan itu terlaksana. Penggantinya, Sultan Amangkurat I (1645-1677) ternyata bersikap lemah dan mau bekerjasama dengan Belanda.

Untuk menghormati jasa-jasa Sultan Agung Hanyokrokusumo, berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No. 106/TK/1975, Pemerintah menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepadanya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS