Gabungan Politik Indonesia (GAPI) adalah suatu organisasi payung dari partai-partai dan organisasi-organisasi politik. GAPI berdiri pada tanggal 21 Mei 1939 didalam rapat pendirian organisasi nasional di Jakarta. Walaupun tergabung dalam GAPI, masing-masing partai tetap mempunyai kemerdekaan penuh terhadap program kerjanya masing-masing dan bila timbul perselisihan antara partai-partai, GAPI bertindak sebagai penengah. Untuk pertama sekali pimpinan dipegang oleh Muhammad Husni Thamrin, Mr. Amir Syarifuddin, Abikiusno Tjokrosuyoso. Di dalam anggaran dasar di terangkan bahwa GAPI berdasar kepada: Di dalam konfrensi pertama GAPI tanggal 4 Juli 1939 telah dibicarakan aksi GAPI dengan semboyan "Indonesia berparlemen". September 1939 GAPI mengeluarkan suatu pernyataan yang kemudian dikenal dengan nama Manifest GAPI. Isinya mengajak rakyat Indonesia dan rakyat negeri Belanda untuk bekerjasama menghadapi bahaya fasisme dimana kerjasama akan lebih berhasil apabila rakyat Indonesia diberikan hak-hak baru dalam urusan pemerintahan. Yaitu suatu pemerintahan dengan parlemen yang dipilih dari dan oleh rakyat, dimana pemerintahan tersebut bertanggungjawab kepada parlemen tersebut. Untuk mencapai tujuan yang dicita-citakan, GAPI menyerukan agar perjuangan GAPI disokong oleh semua lapisan rakyat Indonesia. Seruan itu disambut hangat oleh pers Indonesia dengan memberitakan secara panjang lebar mengenai GAPI bahkan sikap beberapa negara di Asia dalam menghadapi bahaya fasisme juga diuraikan secara khusus. GAPI sendiri juga mengadakan rapat-rapat umum yang mencapai puncaknya pada tanggal 12 Desember 1939 dimana tidak kurang dari 100 tempat di Indonesia mengadakan rapat memprogandakan tujuan GAPI. Selanjutnya GAPI membentuk Kongres Rakyat Indonesia (KRI). Kongres Rakyat Indonesia diresmikan sewaktu diadakannya pada tanggal 25 Desember 1939 di Jakarta. Tujuannya adalah "Indonesia Raya" bertujuan untuk kesejahteraan rakyat Indonesia dan kesempatan cita-citanya. Dalam kongres ini berdengunglah suara dan tututan "Indonesia berparlemen". Keputusan yang lain yang penting diantaranya, penerapan Bendera Merah Putih dan Lagu Indonesia Raya sebagai bendera dan lagu persatuan Indonesia dan peningkatan pemakaian bahasa Indonesiabagi rakyat Indonesia. Walaupun berbagai upaya telah diadakan oleh GAPI namun tidak membawa hasil yang banyak. Karena situasi politik makin gawat akibat Perang Dunia II, pemerintah kolonial Hindia Belandamengeluarkan peraturan inheemse militie dan memperketat izin mengadakan rapat.
Gabungan Politik Indonesia (GAPI)
Boedi Oetomo
Budi Utomo (ejaan Soewandi: Boedi Oetomo) adalah sebuah organisasi pemuda yang didirikan oleh Dr. Sutomo pada tanggal 20 Mei 1908. Berdirinya Budi Utomo menjadi awal gerakan yang bertujuan mencapai kemerdekaan Indonesia walaupun pada saat itu organisasi ini awalnya hanya ditujukan bagi golongan berpendidikan Jawa. Saat ini tanggal berdirinya Budi Utomo, 20 Mei, diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Budi Utomo lahir dari inspirasi yang dikemukakan oleh Wahidin Soedirohoesodo disaat beliau sedang berkeliling ke setiap sekolah untuk menyebarkan beasiswa, salah satunya STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen). Sejak saat itu, mahasiswa STOVIA mulai terbuka pikirannya dan mereka mulai mengadakan pertemuan-pertemuan dan diskusi yang sering dilakukan di perpustakaanSTOVIA oleh beberapa mahasiswa, antara lain Soetomo, Goenawan Mangoenkoesoemo, Goembrek, Saleh, dan Soeleman. Mereka memikirkan nasib bangsa yang sangat buruk dan selalu dianggap bodoh dan tidak bermartabat oleh bangsa lain (Belanda), serta bagaimana cara memperbaiki keadaan yang amat buruk dan tidak adil itu. Para pejabat pangreh praja (sekarang pamong praja) kebanyakan hanya memikirkan kepentingan sendiri dan jabatan. Dalam praktik mereka pun tampak menindas rakyat dan bangsa sendiri, misalnya dengan menarik pajak sebanyak-banyaknya untuk menyenangkan hati atasan dan para penguasa Belanda. Para pemuda mahasiswa itu juga menyadari bahwa mereka membutuhkan sebuah organisasi untuk mewadahi mereka, seperti halnya golongan-golongan lain yang mendirikan perkumpulan hanya untuk golongan mereka seperti Tiong Hoa Hwee Koan untuk orang Tionghoa dan Indische Bond untuk orang Indo-Belanda. Pemerintah Hindia Belanda jelas juga tidak bisa diharapkan mau menolong dan memperbaiki nasib rakyat kecil kaum pribumi, bahkan sebaliknya, merekalah yang selama ini menyengsarakan kaum pribumi dengan mengeluarkan peraturan-peraturan yang sangat merugikan rakyat kecil. Para pemuda itu akhirnya berkesimpulan bahwa merekalah yang harus mengambil prakarsa menolong rakyatnya sendiri. Pada waktu itulah muncul gagasan Soetomo untuk mendirikan sebuah perkumpulan yang akan mempersatukan semua orang Jawa, Sunda, dan Madura yang diharapkan bisa dan bersedia memikirkan serta memperbaiki nasib bangsanya. Perkumpulan ini tidak bersifat eksklusif tetapi terbuka untuk siapa saja tanpa melihat kedudukan, kekayaan, atau pendidikannya. Pada awalnya, para pemuda itu berjuang untuk penduduk yang tinggal di Pulau Jawa dan Madura, yang untuk mudahnya disebut saja suku bangsa Jawa. Mereka mengakui bahwa mereka belum mengetahui nasib, aspirasi, dan keinginan suku-suku bangsa lain di luar Pulau Jawa, terutama Sumatera, Sulawesi, dan Maluku. Apa yang diketahui adalah bahwa Belanda menguasai suatu wilayah yang disebut Hindia (Timur) Belanda (Nederlandsch Oost-Indie), tetapi sejarah penjajahan dan nasib suku-suku bangsa yang ada di wilayah itu bermacam-macam, begitu pula kebudayaannya. Dengan demikian, sekali lagi pada awalnya Budi Utomo memang memusatkan perhatiannya pada penduduk yang mendiami Pulau Jawa dan Madura saja karena, menurut anggapan para pemuda itu, penduduk Pulau Jawa dan Madura terikat oleh kebudayaan yang sama. Pada hari Minggu, 20 Mei 1908, pada pukul sembilan pagi, bertempat di salah satu ruang belajar STOVIA, Soetomo menjelaskan gagasannya. Dia menyatakan bahwa hari depan bangsa dan Tanah Air ada di tangan mereka. Maka lahirlah Boedi Oetomo. Namun, para pemuda juga menyadari bahwa tugas mereka sebagai mahasiswa kedokteran masih banyak, di samping harus berorganisasi. Oleh karena itu, mereka berpendapat bahwa "kaum tua"-lah yang harus memimpin Budi Utomo, sedangkan para pemuda sendiri akan menjadi motor yang akan menggerakkan organisasi itu. Sepuluh tahun pertama Budi Utomo mengalami beberapa kali pergantian pemimpin organisasi. Kebanyakan memang para pemimpin berasal kalangan "priayi" atau para bangsawan dari kalangan keraton, seperti Raden Adipati Tirtokoesoemo, bekas Bupati Karanganyar (presiden pertama Budi Utomo), dan Pangeran Ario Noto Dirodjo dari Keraton Pakualaman. Budi Utomo mengalami fase perkembangan penting saat kepemimpinan Pangeran Noto Dirodjo. Saat itu, Douwes Dekker, seorang Indo-Belanda yang sangat properjuangan bangsa Indonesia, dengan terus terang mewujudkan kata "politik" ke dalam tindakan yang nyata. Berkat pengaruhnyalah pengertian mengenai "tanah air Indonesia" makin lama makin bisa diterima dan masuk ke dalam pemahaman orang Jawa. Maka muncullah Indische Partij yang sudah lama dipersiapkan oleh Douwes Dekker melalui aksi persnya. Perkumpulan ini bersifat politik dan terbuka bagi semua orang Indonesia tanpa terkecuali. Baginya "tanah air" (Indonesia) adalah di atas segala-galanya. Pada masa itu pula muncul Sarekat Islam, yang pada awalnya dimaksudkan sebagai suatu perhimpunan bagi para pedagang besar maupun kecil di Solo dengan nama Sarekat Dagang Islam, untuk saling memberi bantuan dan dukungan. Tidak berapa lama, nama itu diubah oleh, antara lain, Tjokroaminoto, menjadi Sarekat Islam, yang bertujuan untuk mempersatukan semua orang Indonesia yang hidupnya tertindas oleh penjajahan. Sudah pasti keberadaan perkumpulan ini ditakuti orang Belanda. Munculnya gerakan yang bersifat politik semacam itu rupanya yang menyebabkan Budi Utomo agak terdesak ke belakang. Kepemimpinan perjuangan orang Indonesia diambil alih oleh Sarekat Islam dan Indische Partij karena dalam arena politik Budi Utomo memang belum berpengalaman. Karena gerakan politik perkumpulan-perkumpulan tersebut, makna nasionalisme makin dimengerti oleh kalangan luas. Ada beberapa kasus yang memperkuat makna tersebut. Ketika Pemerintah Hindia Belanda hendak merayakan ulang tahun kemerdekaan negerinya, dengan menggunakan uang orang Indonesia sebagai bantuan kepada pemerintah yang dipungut melalui penjabat pangreh praja pribumi, misalnya, rakyat menjadi sangat marah. Kemarahan itu mendorong Soewardi Suryaningrat (yang kemudian bernama Ki Hadjar Dewantara) untuk menulis sebuah artikel "Als ik Nederlander was" (Seandainya Saya Seorang Belanda), yang dimaksudkan sebagai suatu sindiran yang sangat pedas terhadap pihak Belanda. Tulisan itu pula yang menjebloskan dirinya bersama dua teman dan pembelanya, yaitu Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo ke penjara oleh Pemerintah Hindia Belanda (lihat: Boemi Poetera). Namun, sejak itu Budi Utomo tampil sebagai motor politik di dalam pergerakan orang-orang pribumi. Agak berbeda dengan Goenawan Mangoenkoesoemo yang lebih mengutamakan kebudayaan dari pendidikan, Soewardi menyatakan bahwa Budi Utomo adalah manifestasi dari perjuangan nasionalisme. Menurut Soewardi, orang-orang Indonesia mengajarkan kepada bangsanya bahwa "nasionalisme Indonesia" tidaklah bersifat kultural, tetapi murni bersifat politik. Dengan demikian, nasionalisme terdapat pada orang Sumatera maupun Jawa, Sulawesi maupun Maluku. Pendapat tersebut bertentangan dengan beberapa pendapat yang mengatakan bahwa Budi Utomo hanya mengenal nasionalisme Jawa sebagai alat untuk mempersatukan orang Jawa dengan menolak suku bangsa lain. Demikian pula Sarekat Islam juga tidak mengenal pengertian nasionalisme, tetapi hanya mempersyaratkan agama Islam agar seseorang bisa menjadi anggota. Namun, Soewardi tetap mengatakan bahwa pada hakikatnya akan segera tampak bahwa dalam perhimpunan Budi Utomo maupun Sarekat Islam, nasionalisme "Indonesia" ada dan merupakan unsur yang paling penting.
Untung Surapati
Lahir : Tidak diketahui
Wafat : Bangil, 5 Desember 1706
Makam : Bangil
UNTUNG SURAPATI semula adalah budak belian dari Bali. Karena ada persoalan asmara dengan putri majikannya yang bernama Suzanne, ia kemudian melarikan diri ke Batavia dan menjadi perampok untuk menyambung hidup. Korbannya adalah orang-orang Belanda dan orang kaya yang menjadi antek-antek Belanda. Karena kesulitan menghadapi Untung, Belanda kemudian mengajak bekerjasama. Untung kemudian dididik kemiliteran dan diangkat sebagai tentara dengan pangkat letnan.
Untung Suropati kemudian ditugaskan untuk menangkap Pangeran Purbaya, putra Sultan Ageng dari Banten yang melarikan diri ke Priangan. Tugas tersebut dapat diselesaikan dengan baik. Saat melakukan serah terima tawanan, ada seorang letnan Belanda yang bernama Kuffeler melontarkan penghinaan terhadap Untung di muka umum. Untung Surapati marah, kemudian membunuh letnan Belanda tersebut beserta separuh anak buahnya. Ia kemudian melarikan diri dan kembali kepada pekerjaan lamanya serta memerangi Belanda. Pada sebuah pertempuran di Kertasura, Untung Surapati berhasil membunuh Kapten Tack beserta 70 orang anak buahnya. Peristiwa terbunuhnya pasukan Belanda tersebut terjadi pada tanggal 8 Februari 1686.
Untung Surapati pernah bekerjasama dengan Amangkurat II dari Mataram. Dengan persetujuan Raja Mataram tersebut, ia kemudian membentuk kerajaan sendiri di Pasuruan. Untung kemudian memakai gelar Adipati Ariawiranegara.
Pertempuran terakhir Untung Surapati dengan Belanda terjadi sewaktu dia mempertahankan daerah Bangil. Pada pertempuran tersebut, Untung mengalami luka-luka berat dan akhirnya gugur pada tanggal 5 Desember 1706.
Untuk menghormati jasa-jasa Untung Surapati, berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No. 106/TK/1975, Pemerintah menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepadanya.
Tuanku Tambusai
Lahir : Kampar, Riau, 5 November 1784
Wafat : Negeri Sembilan, Malaysia, 12 November 1882
Makam : -
TERLAHIR dengan nama Muhammad Saleh. Ia adalah putra pejabat tinggi agama di kerajaan Tambusai. Saat belajar agama pada tokoh-tokoh ulama di Sumatera Barat, ia berkenalan dengan pemimpin Padri yaitu Tuanku Imam Bonjol.
Pada waktu terjadi perang Padri, Tuanku Tambusai adalah salah satu tokoh pemimpin kaum Padri yang cukup ditakuti oleh Belanda. Karena ketangguhan perlawanan yang diberikan Tuanku Tambusai, Belanda memberinya gelar Harimau Padri dari Rokan.
Tuanku Tambusai memimpin kaum Padri setelah Tuanku Rao gugur pada suatu pertempuran di Air Bangis, Sumatera Barat bagian Utara. Bulan September 1832, Benteng Rao berhasil dikuasai Belanda. Tuanku Tambusai bersama pasukannya menyingkir ke Tapanuli Selatan dan mendirikan benteng pertahanan berlapis-lapis di Dalu-dalu. Di sinilah letak kecerdikan Tuanku Tambusai. Benteng-benteng pertahanan tersebut sangat sukar ditembus oleh pasukan Belanda. Tuanku Tambusai kemudian mulai menyerang Belanda di bagian Utara Sumatera Barat dan daerah sekitar Tapanuli Selatan.
Tahun 1835-1837, adalah tahun yang cukup berat bagi perjuangan kaum Padri di daerah Bonjol. Apalagi Belanda mengepung daerah Bonjol dengan kekuatan 14.000 prajurit. Tuanku Tambusai yang berada di Utara Sumatera Barat sering menyerang pos-pos Belanda sehingga konsentrasi Belanda menjadi terpecah. Oleh karena itu, Bonjol baru dapat dikuasai oleh Belanda setelah lebih dari tiga tahun melakukan pengepungan. Benteng Bonjol sendiri jatuh ke tangan Belanda pada tanggal 16 Agustus 1837.
Walaupun Tuanku Imam Bonjol dapat ditawan oleh Belanda, namun Tuanku Tambusai tetap melanjutkan perlawanannya. Belanda cukup kesulitan untuk mengalahkan Tuanku Tambusai yang bertahan di Benteng Dalu-dalu. Serangan-serangan yang dilakukan oleh Belanda sejak awal tahun 1838 selalu gagal karena kuatnya bentang pertahanan Dalu-dalu. Butuh waktu 1 tahun penuh bagi Belanda untuk menundukkan Dalu-dalu.
Tanggal 28 September 1838, benteng utama Dalu-dalu baru dapat dilumpuhkan. Namun Tuanku Tambusai berhasil melarikan diri ke Malaysia. Tuanku Tambusai berada di Malaysia hingga wafat pada tanggal 12 November 1882. Tuanku Tambusai dianugerahi gelar pahlawan nasional berdasarkan SK Presiden No. 071/TK/1995.
Tuanku Imam Bonjol
Lahir : Tanjung Bunga, Pasaman, Sumatera Barat 1772
Wafat : Manado, Sulawesi Utara, 8 November 1864
Makam : Lotan, Manado
NAMA sesungguhnya adalah Muhammad Sahab. Semasa remaja, ia biasa dipanggil dengan nama Peto Syarif. Setelah menuntut ilmu agama di Aceh (1800-1802) ia mendapat gelar Malim Basa. Tahun 1803, Malim Basa kembali ke Minangkabau dan belajar pada Tuanku Nan Renceh. Ia adalah murid kesayangan Tuanku Nan Renceh yang banyak memberi pelajaran ilmu perang kepadanya. Tahun 1807, Malim Basa mendirikan Benteng di kaki Bukit Tajadi yang kemudian diberi nama Bonjol. Sejak itu ia dikenal dengan sebutan Tuanku Imam Bonjol.
Pada waktu itu di daerah Minangkabau sedang terjadi pertentangan yang hebat antara kaum Padri (golongan agama) dengan kaum adat. Tanggal 10 Februari 1821, bantuan kepada pihak Belanda dengan janji menyerahkan seluruh kedaulatan Minangkabau kepada Belanda. Sejak saat itu Perang Padri dimulai.
Untuk memperkuat kedudukannya, Belanda mendirikan benteng Ford van der Capellen di Batu Sangkar dan Ford de Cock di Bukit Tinggi. Tuanku Imam Bonjol yang memiliki banyak pengikut merupakan lawan berat bagi Belanda. Apalagi ketika itu Belanda juga sedang menghadapi perang besar di Pulau Jawa melawan Pangeran Diponegoro (1825-1830). Hal ini membuat Belanda menerapkan taktik berdamai dengan kaum Padri.
Setelah perang Diponegoro berakhir, Belanda kembali menyerang kaum Padri. Sentot Ali Basya, seorang Panglima perang Pangeran Diponegoro yang ditawan Belanda dipaksa untuk melawan kaum Padri. Namun dengan kecerdikannya, Sentot justru berbalik membantu kaum Padri sehingga ia akhirnya kembali dibuang ke Bengkulu. Kegigiha Tuanku Imam Bonjol memaksa Belanda mengerahkan pasukan besar-besaran yang terdiri dari gabungan orang-orang Eropa, Afrika, dan pribumi dari Jawa.
Pada tanggal 16 Agustus 1837, Bonjol jatuh ke tangan Belanda. Keluarga Tuanku Imam Bonjol dibunuh, sedangkan Tuanku Imam Bonjol berhasil melarikan diri dan melanjutkan perang gerilya. Belanda akhirnya menggunakan taktik licik dengan pura-pura mengajak berunding. Tuanku Imam Bonjol diundang untuk berunding di sekitar Bukit Gadang dan Tujuh Lurah. Tuanku Imam Bonjol akhirnya terperangkap dan berhasil ditangkap pada tanggal 25 Oktober 1937, dan ditawan di Bukit Tinggi. Setelah itu diasingkan secara berpindah-pindah mulai dari Cianjur, Ambon dan terakhir di Manado. Tuanku Imam Bonjol akhirnya wafat di Manado pada tanggal 8 November 1864. Pemerintah Ri menganugerahi gelar pahlawan nasional kepada Tuanku Imam Bonjol berdasarkan SK Presiden RI No. 087/TK/1973.
Teungku Cik Di Tiro
Lahir : Tiro, Pidie, 1836
Wafat : Benteng, Aneuk Galong, Januari 1891
Makam : Indrapura, Aceh
SEJAK kecil, Teungku Cik Di Tiro yang bernama asli Muhammad Saman telah terbiasa tinggal di lingkungan pesantren. Di situ ia banyak menimba ilmu dari beberapa ulama terkenal di Aceh. Setelah merasa cukup berguru, Saman menunaikan ibadah haji ke Mekah sekaligus memperdalam ilmu agamanya. Sekembalinya dari Mekah, Saman menjadi guru agama di Tiro hingga kemudian dikenal sebagai Teungku Cik Di Tiro.
Tahun 1873, Saman melakukan perlawanan terhadap VOC yang bermaksud memasukkan Aceh ke dalam wilayah jajahannya. Bahkan pada perang di tahun itu, Panglima Belanda, Mayor Jenderal JHR Kohler tewas dalam suatu pertempuran. Hal ini membuat Belanda marah dan mengirimkan pasukan dalam jumlah yang jauh lebuih besar dan kuat untuk memerangi Aceh.
Mei 1881, benteng Belanda di Indrapuri berhasil direbut pasukan Cik Di Tiro. Tak lama kemudian benteng-benteng Belanda lainnya seperti benteng Lambaro, dan Aneuk Galong juga berhasil direbut. Ketika itu, Belanda sudah sangat terdesak sehingga satu-satunya tempat bertahan Belanda hanya tinggal benteng di Banda Aceh. Daerah yang dikuasai Belanda itu pun hanya tinggal empat kilometer persegi. Hal ini membuat Belanda panik dan kewalahan. Cik Di Tiro memang sulit ditundukkan, dan Belanda selalu mengalami kekalahan.
Menyadari peran vital Cik Dik Tiro sebagai sumber semangat perjuangan rakyat Aceh, Belanda akhirnya menggunakan akal licik untuk membunuhnya. Cik Di Tiro akhirnya berhasil diracun melalui makanannya yang dilakukan oleh kakitangan Belanda. Cik Di Tiro kemudian jatuh sakit dan meninggal dunia di benteng Aneuk Galong pada bulan Januari 1891. Atas jasa-jasanya, Muhammad Saman alias Teungku Cik Di Tiro dianugerahi gelar pahlawan nasional oleh pemerintah RI berdasarkan SK.
Teuku Umar
Lahir : Meulaboh, Aceh 1854
Wafat : Meulaboh, 11 Februari 1899
Makam : Desa Mugo, Meulaboh
SEJAK umur 19 tahun, tepatnya tahun 1873, Teuku Umar telah ikut berperang melawan Belanda di kampung halamannya Meulaboh. Terlebih sejak menikah dengan Cut Nyak Dien pada tahun 1880, perlawanan Teuku Umar semakin menghebat. Seperti diketahui, Cut Nyak Dien juga merupakan seorang pejuang wanita yang gigih melawan Belanda.
Teuku Umar adalah panglima perang yang cerdik dan pandai bersiasat. Ia pernah berpura-pura membantu Belanda membebaskan kapal Inggris Nissero yang terdampar dan ditawan oleh Raja Teunom, Aceh Barat. Inggris mendesak Belanda agar membantu membebaskan awak kapal yang ditawan. Belanda lantas mengutus TeukuUmar dengan 32 orang tentara ke Teunom. Di tengah jalan, tentara Belanda yang menyertainya dibunuh dan dirampas senjatanya.
Teuku Umar pernah menyerang dan menawan kapal Hok Canton yang berlabuh di Pantai Rigaih. Pasalnya, Teuku Umar curiga awak kapal tersebut akan menangkap dirinya. Untuk menebusnya, Belanda terpaksa harus membayar uang sebesar 25.000 Dollar.
Tahun 1893, Teuku Umar tunduk dan bergabung dengan Belanda. Siasat berpura-pura Teuku Umar ini ternyata berhasil. Belanda kemudian mengizinkan Teuku Umar memiliki tentara berkekuatan 250 orang berikut persenjataan lengkap untuk memerangi pejuang-pejuang Aceh yang belum tunduk. Para pejuang Aceh yang akan diperangi pun paham karena telah diberitahu sebelumnya. Semua itu dilakukan Teuku Umar demi mendapatkan senjata dan perbekalan dari pihak VOC Belanda.
Pada tanggal 29 Maret 1896, Teuku Umar kembali bergabung dengan para pejuang Aceh. Ia berhasil membawa lari senjata, uang sebanyak 800.000 Dollar, dan perlengkapan lain milik Belanda.
Semasa bergabung dengan Belanda, Teuku Umar pernah diberi gelar Teuku Johan Pahlawan dan memimpin 1 legiun tentara berkekuatan 250 orang serdadu. Teuku Umar mampu menghadapi Politik Devide et Empera (“Pecah Belah dan Jajahlah”) Belanda dengan menggunakan kekuatan Belanda sendiri.
Pada Januari 1899, Belanda merasa tertipu dan amat marah sehingga mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menangkap Teuku Umar di Meulaboh. Teuku Umar akhirnya gugur pada tanggal 11 Februari 1899, dan dimakamkan di Desa Mugo, Aceh. SK Presiden RI. No. 087/TK/1973 meneguhkan Teuku Umar sebagai pahlawan nasional.





