Tampilkan postingan dengan label Pahlawan Sebelum Kebangkitan Nasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pahlawan Sebelum Kebangkitan Nasional. Tampilkan semua postingan

Untung Surapati

Lahir : Tidak diketahui

Wafat : Bangil, 5 Desember 1706

Makam : Bangil

UNTUNG SURAPATI semula adalah budak belian dari Bali. Karena ada persoalan asmara dengan putri majikannya yang bernama Suzanne, ia kemudian melarikan diri ke Batavia dan menjadi perampok untuk menyambung hidup. Korbannya adalah orang-orang Belanda dan orang kaya yang menjadi antek-antek Belanda. Karena kesulitan menghadapi Untung, Belanda kemudian mengajak bekerjasama. Untung kemudian dididik kemiliteran dan diangkat sebagai tentara dengan pangkat letnan.

Untung Suropati kemudian ditugaskan untuk menangkap Pangeran Purbaya, putra Sultan Ageng dari Banten yang melarikan diri ke Priangan. Tugas tersebut dapat diselesaikan dengan baik. Saat melakukan serah terima tawanan, ada seorang letnan Belanda yang bernama Kuffeler melontarkan penghinaan terhadap Untung di muka umum. Untung Surapati marah, kemudian membunuh letnan Belanda tersebut beserta separuh anak buahnya. Ia kemudian melarikan diri dan kembali kepada pekerjaan lamanya serta memerangi Belanda. Pada sebuah pertempuran di Kertasura, Untung Surapati berhasil membunuh Kapten Tack beserta 70 orang anak buahnya. Peristiwa terbunuhnya pasukan Belanda tersebut terjadi pada tanggal 8 Februari 1686.

Untung Surapati pernah bekerjasama dengan Amangkurat II dari Mataram. Dengan persetujuan Raja Mataram tersebut, ia kemudian membentuk kerajaan sendiri di Pasuruan. Untung kemudian memakai gelar Adipati Ariawiranegara.

Pertempuran terakhir Untung Surapati dengan Belanda terjadi sewaktu dia mempertahankan daerah Bangil. Pada pertempuran tersebut, Untung mengalami luka-luka berat dan akhirnya gugur pada tanggal 5 Desember 1706.

Untuk menghormati jasa-jasa Untung Surapati, berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No. 106/TK/1975, Pemerintah menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepadanya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Tuanku Tambusai

Lahir : Kampar, Riau, 5 November 1784

Wafat : Negeri Sembilan, Malaysia, 12 November 1882

Makam : -

TERLAHIR dengan nama Muhammad Saleh. Ia adalah putra pejabat tinggi agama di kerajaan Tambusai. Saat belajar agama pada tokoh-tokoh ulama di Sumatera Barat, ia berkenalan dengan pemimpin Padri yaitu Tuanku Imam Bonjol.

Pada waktu terjadi perang Padri, Tuanku Tambusai adalah salah satu tokoh pemimpin kaum Padri yang cukup ditakuti oleh Belanda. Karena ketangguhan perlawanan yang diberikan Tuanku Tambusai, Belanda memberinya gelar Harimau Padri dari Rokan.

Tuanku Tambusai memimpin kaum Padri setelah Tuanku Rao gugur pada suatu pertempuran di Air Bangis, Sumatera Barat bagian Utara. Bulan September 1832, Benteng Rao berhasil dikuasai Belanda. Tuanku Tambusai bersama pasukannya menyingkir ke Tapanuli Selatan dan mendirikan benteng pertahanan berlapis-lapis di Dalu-dalu. Di sinilah letak kecerdikan Tuanku Tambusai. Benteng-benteng pertahanan tersebut sangat sukar ditembus oleh pasukan Belanda. Tuanku Tambusai kemudian mulai menyerang Belanda di bagian Utara Sumatera Barat dan daerah sekitar Tapanuli Selatan.

Tahun 1835-1837, adalah tahun yang cukup berat bagi perjuangan kaum Padri di daerah Bonjol. Apalagi Belanda mengepung daerah Bonjol dengan kekuatan 14.000 prajurit. Tuanku Tambusai yang berada di Utara Sumatera Barat sering menyerang pos-pos Belanda sehingga konsentrasi Belanda menjadi terpecah. Oleh karena itu, Bonjol baru dapat dikuasai oleh Belanda setelah lebih dari tiga tahun melakukan pengepungan. Benteng Bonjol sendiri jatuh ke tangan Belanda pada tanggal 16 Agustus 1837.

Walaupun Tuanku Imam Bonjol dapat ditawan oleh Belanda, namun Tuanku Tambusai tetap melanjutkan perlawanannya. Belanda cukup kesulitan untuk mengalahkan Tuanku Tambusai yang bertahan di Benteng Dalu-dalu. Serangan-serangan yang dilakukan oleh Belanda sejak awal tahun 1838 selalu gagal karena kuatnya bentang pertahanan Dalu-dalu. Butuh waktu 1 tahun penuh bagi Belanda untuk menundukkan Dalu-dalu.

Tanggal 28 September 1838, benteng utama Dalu-dalu baru dapat dilumpuhkan. Namun Tuanku Tambusai berhasil melarikan diri ke Malaysia. Tuanku Tambusai berada di Malaysia hingga wafat pada tanggal 12 November 1882. Tuanku Tambusai dianugerahi gelar pahlawan nasional berdasarkan SK Presiden No. 071/TK/1995.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Tuanku Imam Bonjol

Lahir : Tanjung Bunga, Pasaman, Sumatera Barat 1772

Wafat : Manado, Sulawesi Utara, 8 November 1864

Makam : Lotan, Manado


NAMA sesungguhnya adalah Muhammad Sahab. Semasa remaja, ia biasa dipanggil dengan nama Peto Syarif. Setelah menuntut ilmu agama di Aceh (1800-1802) ia mendapat gelar Malim Basa. Tahun 1803, Malim Basa kembali ke Minangkabau dan belajar pada Tuanku Nan Renceh. Ia adalah murid kesayangan Tuanku Nan Renceh yang banyak memberi pelajaran ilmu perang kepadanya. Tahun 1807, Malim Basa mendirikan Benteng di kaki Bukit Tajadi yang kemudian diberi nama Bonjol. Sejak itu ia dikenal dengan sebutan Tuanku Imam Bonjol.

Pada waktu itu di daerah Minangkabau sedang terjadi pertentangan yang hebat antara kaum Padri (golongan agama) dengan kaum adat. Tanggal 10 Februari 1821, bantuan kepada pihak Belanda dengan janji menyerahkan seluruh kedaulatan Minangkabau kepada Belanda. Sejak saat itu Perang Padri dimulai.

Untuk memperkuat kedudukannya, Belanda mendirikan benteng Ford van der Capellen di Batu Sangkar dan Ford de Cock di Bukit Tinggi. Tuanku Imam Bonjol yang memiliki banyak pengikut merupakan lawan berat bagi Belanda. Apalagi ketika itu Belanda juga sedang menghadapi perang besar di Pulau Jawa melawan Pangeran Diponegoro (1825-1830). Hal ini membuat Belanda menerapkan taktik berdamai dengan kaum Padri.

Setelah perang Diponegoro berakhir, Belanda kembali menyerang kaum Padri. Sentot Ali Basya, seorang Panglima perang Pangeran Diponegoro yang ditawan Belanda dipaksa untuk melawan kaum Padri. Namun dengan kecerdikannya, Sentot justru berbalik membantu kaum Padri sehingga ia akhirnya kembali dibuang ke Bengkulu. Kegigiha Tuanku Imam Bonjol memaksa Belanda mengerahkan pasukan besar-besaran yang terdiri dari gabungan orang-orang Eropa, Afrika, dan pribumi dari Jawa.

Pada tanggal 16 Agustus 1837, Bonjol jatuh ke tangan Belanda. Keluarga Tuanku Imam Bonjol dibunuh, sedangkan Tuanku Imam Bonjol berhasil melarikan diri dan melanjutkan perang gerilya. Belanda akhirnya menggunakan taktik licik dengan pura-pura mengajak berunding. Tuanku Imam Bonjol diundang untuk berunding di sekitar Bukit Gadang dan Tujuh Lurah. Tuanku Imam Bonjol akhirnya terperangkap dan berhasil ditangkap pada tanggal 25 Oktober 1937, dan ditawan di Bukit Tinggi. Setelah itu diasingkan secara berpindah-pindah mulai dari Cianjur, Ambon dan terakhir di Manado. Tuanku Imam Bonjol akhirnya wafat di Manado pada tanggal 8 November 1864. Pemerintah Ri menganugerahi gelar pahlawan nasional kepada Tuanku Imam Bonjol berdasarkan SK Presiden RI No. 087/TK/1973.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Teungku Cik Di Tiro

Lahir : Tiro, Pidie, 1836

Wafat : Benteng, Aneuk Galong, Januari 1891

Makam : Indrapura, Aceh

SEJAK kecil, Teungku Cik Di Tiro yang bernama asli Muhammad Saman telah terbiasa tinggal di lingkungan pesantren. Di situ ia banyak menimba ilmu dari beberapa ulama terkenal di Aceh. Setelah merasa cukup berguru, Saman menunaikan ibadah haji ke Mekah sekaligus memperdalam ilmu agamanya. Sekembalinya dari Mekah, Saman menjadi guru agama di Tiro hingga kemudian dikenal sebagai Teungku Cik Di Tiro.

Tahun 1873, Saman melakukan perlawanan terhadap VOC yang bermaksud memasukkan Aceh ke dalam wilayah jajahannya. Bahkan pada perang di tahun itu, Panglima Belanda, Mayor Jenderal JHR Kohler tewas dalam suatu pertempuran. Hal ini membuat Belanda marah dan mengirimkan pasukan dalam jumlah yang jauh lebuih besar dan kuat untuk memerangi Aceh.

Mei 1881, benteng Belanda di Indrapuri berhasil direbut pasukan Cik Di Tiro. Tak lama kemudian benteng-benteng Belanda lainnya seperti benteng Lambaro, dan Aneuk Galong juga berhasil direbut. Ketika itu, Belanda sudah sangat terdesak sehingga satu-satunya tempat bertahan Belanda hanya tinggal benteng di Banda Aceh. Daerah yang dikuasai Belanda itu pun hanya tinggal empat kilometer persegi. Hal ini membuat Belanda panik dan kewalahan. Cik Di Tiro memang sulit ditundukkan, dan Belanda selalu mengalami kekalahan.

Menyadari peran vital Cik Dik Tiro sebagai sumber semangat perjuangan rakyat Aceh, Belanda akhirnya menggunakan akal licik untuk membunuhnya. Cik Di Tiro akhirnya berhasil diracun melalui makanannya yang dilakukan oleh kakitangan Belanda. Cik Di Tiro kemudian jatuh sakit dan meninggal dunia di benteng Aneuk Galong pada bulan Januari 1891. Atas jasa-jasanya, Muhammad Saman alias Teungku Cik Di Tiro dianugerahi gelar pahlawan nasional oleh pemerintah RI berdasarkan SK.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Teuku Umar

Lahir : Meulaboh, Aceh 1854

Wafat : Meulaboh, 11 Februari 1899

Makam : Desa Mugo, Meulaboh

SEJAK umur 19 tahun, tepatnya tahun 1873, Teuku Umar telah ikut berperang melawan Belanda di kampung halamannya Meulaboh. Terlebih sejak menikah dengan Cut Nyak Dien pada tahun 1880, perlawanan Teuku Umar semakin menghebat. Seperti diketahui, Cut Nyak Dien juga merupakan seorang pejuang wanita yang gigih melawan Belanda.

Teuku Umar adalah panglima perang yang cerdik dan pandai bersiasat. Ia pernah berpura-pura membantu Belanda membebaskan kapal Inggris Nissero yang terdampar dan ditawan oleh Raja Teunom, Aceh Barat. Inggris mendesak Belanda agar membantu membebaskan awak kapal yang ditawan. Belanda lantas mengutus TeukuUmar dengan 32 orang tentara ke Teunom. Di tengah jalan, tentara Belanda yang menyertainya dibunuh dan dirampas senjatanya.

Teuku Umar pernah menyerang dan menawan kapal Hok Canton yang berlabuh di Pantai Rigaih. Pasalnya, Teuku Umar curiga awak kapal tersebut akan menangkap dirinya. Untuk menebusnya, Belanda terpaksa harus membayar uang sebesar 25.000 Dollar.

Tahun 1893, Teuku Umar tunduk dan bergabung dengan Belanda. Siasat berpura-pura Teuku Umar ini ternyata berhasil. Belanda kemudian mengizinkan Teuku Umar memiliki tentara berkekuatan 250 orang berikut persenjataan lengkap untuk memerangi pejuang-pejuang Aceh yang belum tunduk. Para pejuang Aceh yang akan diperangi pun paham karena telah diberitahu sebelumnya. Semua itu dilakukan Teuku Umar demi mendapatkan senjata dan perbekalan dari pihak VOC Belanda.

Pada tanggal 29 Maret 1896, Teuku Umar kembali bergabung dengan para pejuang Aceh. Ia berhasil membawa lari senjata, uang sebanyak 800.000 Dollar, dan perlengkapan lain milik Belanda.

Semasa bergabung dengan Belanda, Teuku Umar pernah diberi gelar Teuku Johan Pahlawan dan memimpin 1 legiun tentara berkekuatan 250 orang serdadu. Teuku Umar mampu menghadapi Politik Devide et Empera (“Pecah Belah dan Jajahlah”) Belanda dengan menggunakan kekuatan Belanda sendiri.

Pada Januari 1899, Belanda merasa tertipu dan amat marah sehingga mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menangkap Teuku Umar di Meulaboh. Teuku Umar akhirnya gugur pada tanggal 11 Februari 1899, dan dimakamkan di Desa Mugo, Aceh. SK Presiden RI. No. 087/TK/1973 meneguhkan Teuku Umar sebagai pahlawan nasional.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Syekh Yusuf Tajul Khalwati

Lahir : Gowa, Sulawesi Selatan, 3 Juli 1626

Wafat : Cape Town, Afrika Selatan 23 Mei 1699

Makam : Gowa, Sulawesi Selatan

MESKIPUN Syekh Yusuf lahir di Gowa, Sulawesi Selatan, namun dirinya banyak menghabiskan waktu untuk berjuang di Banten bersama Sultan Ageng Tirtayasa. Perkenalan Syekh Yusuf dengan Sultan Banten terjadi lebih kurang pada tahun 1644 sewaktu akan menunaikan Ibadah Haji. Sebelum ke Makkah, Syekh Yusuf mampir ke Banten dan tinggal selama 5 tahun di kediaman Sultan Ageng Tirtayasa. Ketika itu, Banten sedang bermusuhan dengan Belanda.

Sekembalinya dari Makkah pada tahun 1664, Syekh Yusuf mampir kembali ke Banten dan membantu perjuangan Sultan Banten melawan VOC. Bahkan ia kemudian dijadikan menantu dan penasihat kesultanan. Ketika Belanda dan Sultan Haji berhasil menguasai Kesultanan Banten, Sultan Ageng Tirtayasa ditangkap dan dipenjara di Batavia. Sedangkan Syekh Yusuf bersama pengikutnya dibuang ke Sri Lanka pada tahun 1684.

Di Sri Lanka, Syekh Yusuf tetap berusaha berjuang dengan cara mengirimkan surat-surat kepada penguasa-penguasa di Nusantara untuk menentang Belanda. Di samping itu juga menyebarkan agama Islam. Perbuatan Syekh Yusuf tersebut membuat Belanda berang dan kembali membuang Syekh Yusuf ke Afrika Selatan.

Selama lima tahun di Afrika Selatan, Syekh Yusuf menyebarkan agama Islam. Oleh karena itu, penduduk di Cape Town hingga kini menganggap Syekh Yusuf sebagai orang pertama yang menyiarkan agama Islam di Afrika Selatan. SK Presiden RI No. 071/TK/1995 meneguhkan Syekh Yusuf Tajul Khalwati sebagai pahlawan nasional.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Sultan Thaha Syaifuddin

Lahir : Jambi, 1816

Wafat : Betong, 24 April 1904

Makam : Muara Tebo

PADA tahun 1841, Thaha Syaifuddin diangkat sebagai Perdana Menteri oleh Sultan Abdurachman. Sejak itu pulalah dia selalu menunjukkan sikap menentang terhadap kekuasaan Belanda di Jambi.

Setelah diangkat menjadi Sultan, ia malah menolak menandatangani perjanjian yang menyatakan bahwa Jambi adalah milik Belanda dan Sultan Jambi hanya meminjam dari Belanda.

Pada 25 September 1858, Belanda melakukan serangan ke Jambi. Meskipun berhasil menenggelamkan kapal-kapal Belanda, tetapi Sultan Thaha tidak mampu mempertahankan istananya dan menyingkir ke pedalaman. Sejak itu, Sultan melakukan perlawanan secara gerilya dan membeli senjata dari pedagang-pedagang Inggris.

April 1904, pertahanan terakhir Sultan Thaha diserang secara besar-besaran oleh Belanda. Sultan Thaha berhasil meloloskan diri. Sultan Thaha akhirnya wafat pada tanggal 24 April 1904 dan dimakamkan di Muara Tebo. Saat ini namanya diabadikan menjadi nama lapangan terbang utama di Kota Jambi. Berdasarkan SK Presiden RI No. 079/TK/1977, Sultan Thaha Syaifuddin dinobatkan sebagai pahlawan nasional.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Sultan Mahmud Badaruddin II

Lahir : Palembang, 1767

Wafat : Ternate, 26 November 1852

Makam : Ternate, Maluku Utara

SEMENJAK ditunjuk menjadi Sultan Kerajaan Palembang menggantikan ayahnya Sultan Muhammad Baha’uddin, Mahmud Badaruddin melakukan perlawanan terhadap Inggris dan Belanda. Ketika Batavia berhasil diduduki Inggris pada tahun 1811, Sultan Mahmud justru berhasil membebaskan Palembang dari cengkeraman Belanda pada tanggal 14 Mei 1811.

Tahun 1812, peperangan dengan Inggris dimulai karena Sultan tidak mau mengakui kekuasaan Inggris di Palembang dan mengangkat Najamuddin menggantikan Sultan Mahmud Badaruddin II yang menyingkirkan ke Muara Rawas.

Berdasarkan Konvensi London tahun 1814, kekuasaan Belanda di Indonesia harus dipulihkan, tahun 1818 Inggris mengembalikan kekuasaannya di Palembang kepada Belanda. Selanjutnya Inggris juga kembali mengangkat Sultan Mahmud Badaruddin II sebagai Raja Palembang.

Namun, sejak tahun itu pula perang antara Sultan Mahmud badaruddin II dengan Belanda kembali berkobar. Tanggal 1 Juli 1821, Kesultanan Palembang berhasil diduduki Belanda dan Sultan berhasil ditawan. Sultan Mahmud Badaruddin II kemudian dibuang ke Ternate, Maluku Utara hingga wafatnya. Sultan Mahmud Badaruddin II tercatat sebagai salah satu pejuang Nasional yang melakukan perlawanan terhadap dua penjajah sekaligus yaitu Inggris dan Belanda. SK Presiden RI No. 063/TK/1984 menganugerahi gelar pahlawan nasional kepada Sultan Mahmud Badaruddin II.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Sultan Iskandar Muda

Lahir : Banda Aceh, 1593

Wafat : Banda Aceh, 27 September 1636

Makam : Banda Aceh

SULTAN ISKANDAR MUDA memerintah Kerajaan Aceh tahun 1607-1636. Sebelum menjadi Sultan di Aceh, ia bernama Johan Perkasa Alam. Di bawah kepemimpinan Sultan Iskandar Muda, Aceh mencapai puncak kejayaannya sebagai kerajaan besar di Nusantara. Wilayah kekuasaannya ketika itu hingga mencapai Malaysia, Sumatera Barat, Sumatera Timur, dan Semenanjung Melayu. Aceh juga menjadi pusat peradaban kebudayaan Islam, di samping juga sebagai pusat perniagaan dan mendapat sebutan Serambi Makkah hingga kinii.

Portugis yang telah menguasai Malaka sejak tahun 1511, tidak pernah mampu menguasai Aceh. Tahun 1615, Iskandar Muda melakukan penyerangan ke Malaka. Namun upaya ini dapat digagalkan oleh Portugis. Tahun 1629, Iskandar Muda kembali menyerang Portugis di Malaka. Kali itu hampir saja Malaka dapat dikuasai jika Portugis tidak mendapat bantuan dari Kerajaan Johor, Pahang, dan Patani.

Sultan Iskandar Muda wafat pada usia 43 tahun. Namun hingga akhir hayatnya, ia berhasil membawa Aceh ke puncak kejayaan dan kemakmuran. Sultan Iskandar Muda dianugerahi gelar pahlawan nasional berdasarkan SK Presiden RI No. 077/TK/1993.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Sultan Hasanuddin

Lahir : Makassar, 12 Januari 1631

Wafat : Makassar, 12 Juni 1670

Makam : Makassar

TERLAHIR dengan nama asli I Mallambosi, dia diangkat menjadi Sultan Ke-6 Kerajaan Gowa dalam usia 24 tahun (tahun 1655). Dia juga diberi nama Arab Muhammad Bakir dan bergelar Sultan Hasanuddin. Sementara itu, Belanda memberinya gelar de Haav van de Osten alias Ayam Jantan dari Timur karena kegigihan dan keberaniannya.

Peperangan antara VOC dan Sultan Hasanuddin dimulai pada tahun 1660. Saat itu, Belanda dibantu oleh Kerajaan Bone yang merupakan kerajaan taklukan dari Kerajaan Gowa. Pada peperangan tersebut, Panglima Bone, Tobala, akhirnya tewas, tetapi Aru Palaka berhasil meloloskan diri. Perang tersebut berakhir dengan perdamaian.

Akan tetapi, perjanjian damai tersebut tidak berlangsung lama karena Sultan Hasanuddin yang merasa dirugikan kemudian menyerang dan merompak dua kapal Belanda, yaitu de Walvis dan Leeuwin. Belanda pun marah. Lalu mengirimkan armada perang yang besar di bawah pimpinan Cornelis Speelman. Aru Palaka, penguasa Bone, juga ikut memimpin pasukannya menyerang Gowa. Hasanuddin yang semakin terdesak akhirnya sepakat untuk membuat perjanjian yang disebut Perjanjian Bongaya pada tanggal 18 November 1667.

Pada tanggal 12 April 1668, Hasanuddin kembali melakukan serangan terhadap Belanda. Namun, karena saat itu Belanda sudah mempunyai kedudukan yang kuat, pada tanggal 26 Juni 1668, Benteng Sombo Opu sebagai pertahanan terakhir Sultan Hasanuddin berhasil dikuasai Belanda.

Hingga wafatnya pada tanggal 12 Juni 1670, Sultan Hasanuddin tetap tidak mau bekerjasama dengan Belanda. Untuk menghormati jasa-jasa Sultan Hasanuddin, berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No. 087/TK/1973, Pemerintah menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepadanya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Sultan Agung Hanyokrokusumo

Lahir : Yogyakarta, 1591

Wafat : Yogyakarta, 1645

Makam : Pemakaman Raja-raja Imogiri

SULTAN AGUNG HANYOKROKUSUMO diangkat sebagai Raja Mataram menggantikan ayahnya, Raden Mas Jolang pada tahun 1613. Di bawah pemerintahan Sultan Agung, Mataram mencapai puncak kejayaannya sebagai kerajaan terbesar di Pulau Jawa saat itu. Sultan Agung adalah raja yang tidak pernah mau berkompromi dengan VOC. Ia bahkan pernah dua kali menyerang kedudukan VOC di Batavia.

Penyerangan pertama pada tahun 1628 dipimpin oleh Tumenggung Baurekso dan beberapa panglima perang lainnya. Namun, serangan ini dapat dipatahkan oleh Belanda. Wabah penyakit serta kekurangan pasokan air dan makanan menjadi sebab gagalnya serangan ini.

Pada tahun 1629, Sultan Agung kembali memerintahkan pasukan Mataram untuk menyerang Batavia. Penyerangan ini dipimpin oleh Dipati Puger dan Dipati Purbaya. Meskipun telah dipersiapkan dengan baik, termasuk membangun lumbung-lumbung padi di sepanjang perjalanan yang akan dilalui, penyerangan ini gagal. Penyebabnya, rencana penyerangan telah bocor dan diketahui oleh Belanda sehingga Belanda mendahului dengan membakar lumbung-lumbung padi yang telah di bangun.

Selain itu, wabah penyakit kolera turut memperburuk kondisi prajurit Mataram. Meskipun demikian, pada serangan kali ini, pasukan Mataram berhasil menguasai dan menghancurkan Benteng Hollandia. Gubernur Jenderal Jan Pieterzoon Coen juga tewas karena wabah penyakit kolera yang saat itu sedang berjangkit di Batavia.

Dari kedua penyerangan tersebut, Sultan Agung kemudian menarik kesimpulan menarik bahwa dukungan logistic amat penting untuk melakukan penyerangan ke lokasi yang jauh. Belajar dari hal tersebut, Sultan Agung kemudian mengirimkan orang-orangnya untuk membuka persawahan di daerah Purwakarta dan Sumedang. Namun, rencana Sultan Agung untuk menyerang Batavia yang ketiga kalinya tidak terlaksana. Dia wafat pada tahun 1645, sebelum penyerangan itu terlaksana. Penggantinya, Sultan Amangkurat I (1645-1677) ternyata bersikap lemah dan mau bekerjasama dengan Belanda.

Untuk menghormati jasa-jasa Sultan Agung Hanyokrokusumo, berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No. 106/TK/1975, Pemerintah menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepadanya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Sultan Ageng Tirtayasa

Lahir : Banten, 1631

Wafat : Jakarta, 1692

Makam : Dekat Masjid Agun, Kesultanan Banten

NAMA kecilnya adalah Abdul Fatah. Ia diangkat menjadi Sultan Banten pada usia 20 tahun dan mendapat gelar Sultan Ageng Tirtayasa. Sultan Ageng Tirtayasa memerintahkan rakyat Banten untuk menolak bekerjasama dengan VOC (Belanda) dan melakukan serangan-serangan gerilya terhadap kedudukan Belanda.

Ia juga berhasil membongkar blockade laut Belanda dan melakukan kerjasama dagang dengan bangsa-bangsa Eropa lain seperti Denmark dan Inggris. Banyak kapal dan pekebunan teh VOC yang berhasil dirampas dan dirusak oleh pejuang-pejuang Banten. Hal ini sangat merugikan VOC.

Belanda akhirnya memakai strategi adu domba untuk menundukkan Banten, yakni dengan menghasut Sultan Haji anak tertua Sultan Ageng. Sultan Haji termakan hasutan Belanda dan mengira ayahnya akan menyerahkan kekuasaan kepada Pangeran Purbaya, adik Sultan Haji, sehingga terjadi perselisihan bahkan sampai terjadi peperangan antara ayah dan anak. Kerjasama Belanda dan Sultan Haji akhirnya dapat mengalahkan Sultan Ageng Tirtayasa. Pada tahun 1683, Sultan Ageng Tirtayasa. Pada tahun 1683, Sultan Ageng Tirtayasa berhasil ditangkap dan dibuang ke Batavia hingga wafat di penjara pada tahun 1692. Sedangkan Pangeran Purbaya menyingkir ke daerah Priangan. Berdasarkan SK Presiden RI No. 045/TK/1970, nama Sultan Ageng Tirtayasa tercatat sebagai pahlawan nasional.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Sri Susuhunan Paku Buwono VI

Lahir : Surakarta, 1807

Wafat : Ambon, 5 Juli 1849

Makam : Imogiri, Yogyakarta

MESKIPUN bukan anak dari permaisuri, Paku Buwono VI dapat diangkat menjadi raja. Sesaat sebelum meninggal, ayahnya mengangkat Paku Buwono VI menjadi raja Kerajaan Surakarta pada tahun 1823.

Pada waktu Paku Buwono VI memerintah, pengaruh Belanda sudah amat besar atas kerajaan-kerajaan di Jawa Tengah, demikian pula di Surakarta. Sehingga sewaktu terjadi perang Diponegoro, Keraton Surakarta tidak dapat berbuat apa-apa untuk membantunya. Bahkan kemudian Paku Buwono VI dipaksa oleh Belanda untuk membantu memerangi Pangeran Diponegoro.

Setelah Perang Diponegoro berakhir, untuk menutupi kerugian besar akibat perang, Belanda justru melakukan tekanan-tekanan terhadap Paku Buwono VI dan Keraton Surakarta. Ia dipaksa untuk menandatangani perjanjian yang merugikan Keraton Surakarta. Paku Buwono VI menolak menandatangani perjanjian yang merugikan Keraton Surakarta. Paku Buwono VI menolak menandatangani perjanjian tersebut. Belanda menjadi kesal, kemudian menganggap Paku Buwono VI sedang menyiapkan pasukannya untuk memberontak.

Kemudian Jenderal Hendrik De Kock selaku pemimpin Belanda saat itu berupaya untuk menundukkan Paku Buwono VI. Berbagai siasat dan tekanan-tekanan dilakukan hingga pada tanggal 6 Juni 1830 Paku Buwono VI pergi ke pemakaman Imogiri untuk berdoa. Belanda menuduh Paku Buwono VI akan menyiapkan pemberontakan. Paku Buwono VI kemudian ditangkap dan diasingkan ke Ambon sehingga wafat pada tahun 1849. Sri Susuhunan Paku Buwono VI dianugerahi gelar pahlawan kemerdekaan nasional SK Presiden RI No. 294/1964.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Sisingamangaraja XII

Lahir : Bakkara, Tapanuli, 1849

Wafat : Simsim, 17 Juni 1907

Makam : Pulau Samosir

NAMA aslinya adalah Patuan Besar Ompu Pulo Batu. Nama Sisingamangaraja XII baru dipakai pada tahun 1867, setelah ia diangkat menjadi raja menggantikan ayahnya yang mangkat. Sang ayah meninggal akibat serangan penyakit kolera.

Februari 1878, Sisingamangaraja mulai melakukan perlawanan terhadap kekuasaan kolonial Belanda. Ini dilakukannya untuk mempertahankan daerah kekuasaannya di Tapanuli yang dicaplok Belanda. Dimulai dari penyerangan pos-pos Belanda di Bakal Batu, Tarutung. Sejak itu penyerangan terhadap pos-pos Belanda lainnya terus berlangsung diantaranya sebagai berikut.

- Mei 1883, pos Belanda di Uluan dan Balige diserang oleh pasukannya Sisingamangaraja.

- Tahun 1884, pos Belanda di Tangga Batu juga dihancurkan oleh pasukan Sisingamangaraja.

Tahun 1907, Belanda berhasil memperkuat pasukan dan persenjataannya. Kondisi ini membuat pasukan Raja Batak ini semakin terdesak dan terkepung. Pada pertempuran yang berlangsung di daerah Pak-pak inilah Sisingamangaraja XII gugur tepatnya pada tanggal 17 Juni 1907. Bersama-sama dengan putrinya (Lopian) dan dua orang putranya (Patuan Nagari dan Patuan Anggi).

Sisingamangaraja kemudian dimakamkan di Balige dan selanjutnya kembali dipindahkan ke Pulau Samosir. Sisingamangaraja dianugerahi gelar pahlawan kemerdekaan nasional berdasarkan SK Presiden RI No. 590/1961.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Raja Haji Fisabilillah

Lahir : Ulu Sungai, Riau 1725

Wafat : Teluk Ketapang, 18 Juni 1784

Makam : Pulau Penyengat

RAJA HAJI FISABILILLAH diangkat menjadi Yang Dipertuan Muda (YDM) Kerajaan Melayu Riau pada tahun 1777. Sebagai Yang Dipertuan Muda, Raja Haji bertanggung jawab terhadap jalannya pemerintahan di Kerajaan Melayu Riau. Dalam masa pemerintahannya, Kerajaan Melayu Riau berkembang cukup baik.

Akan tetapi, Belanda yang saat itu masih menguasai Malaka, tetap merupakan ancaman bagi kerajaan-kerajaan di sekitarnya. Sebetulnya pada tahun 1780, Kerajaan Melayu Riau telah mengadakan perjanjian tersebut, peperangan pun tidak dapat dihindari.

Walaupun angkatan laut Belanda mencoba untuk memblokade Riau, terutama Pulau Penyengat sebagai tempat kediaman YDM Raja Haji, armada Melayu Riau dapat dengan mudah menerobos blokade tersebut. Akhirnya, karena selalu gagal menguasai Pulau Penyengat, Belanda menggunakan taktik mengulur-ulur waktu sambil menunggu bantuan yang lebih besar didatangkan ke Perairan Riau. Raja haji kemudian bekerja sama dengan Sultan Selangor untuk memerangi Belanda di Malaka. Untuk menghadapi pasukan gabungan itu, Belanda mendatangkan pasukannya dari Jawa dalam jumlah besar.

Pada tahun 1784, terjadilah pertempuran hebat. Raja Haji yang memimpin sendiri pasukannya di Teluk Ketapang akhirnya tewas terkena tembakan. Semula jenazahnya dimakamkan di Malaka, kemudian dipindahkan ke pemakaman raja-raja Melayu Riau di Pulau Penyengat. Untuk menghormati jasa-jasa Raja Haji Fisabilillah, berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No. 072/TK/1997, Pemerintah menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepadanya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS